Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar
tetapi tidak menepatinya. Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam
dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau
khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan
merusakkan pekerjaan tanganmu?
Menepati janji adalah sifat yang mulia. Orang yang setia dengan janjinya biasanya memiliki karakter yang baik dan dapat dipercaya. Robertson McQuilken adalah orang yang setia dengan janjinya. Pada waktu kecil ia memiliki cita-cita untuk menjadi presiden dari Columbia Bible College di Columbia, South Carolina. Ia sangat mengagumi ayahnya yang menduduki posisi tersebut pada waktu itu.
Cita-cita McQuilken akhirnya tercapai. Ia menjadi presiden dari Columbia Bible College yang sangat sukses. Pada suatu hari, isterinya menderita Alzheimer (penyakit pikun). Penyakit ini membuat isterinya kehilangan ingatan sehingga ia tidak mengenali suaminya lagi. McQuilken akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisi impiannya untuk merawat isterinya. Ada yang mengkritik dan berpendapat bahwa sebenarnya banyak orang yang dapat merawat isterinya, tetapi tidak banyak yang dapat menjabat presiden sesukses dia. Apalagi isterinya juga sudah tidak dapat mengenali McQuilken lagi. Ada juga yang mengkritik bahwa McQuilken telah meninggalkan panggilan Tuhan.
Jawaban McQuilken amat mengagumkan. Terhadap kritik yang pertama ia berkata bahwa yang penting ia masih mengenali isterinya dan walaupun isterinya lupa, ia tetap wanita yang menarik seperti pada waktu mereka menikah. Terhadap kritik yang kedua ia berkata, "Ada satu hal yang lebih penting dari sekedar panggilan, dan itu adalah sebuah janji. Saya sudah berjanji kepada kepada isteri saya tercinta untuk terus setia mendampinginya sampai maut memisahkan kami."
Bagaimana dengan janji-janji yang pernah terucap dari bibir Anda? Sudahkan itu ditepati atau hanya sekedar hiasan bibir belaka? Kiranya teladan McQuilken mampu membangkitkan setiap kita untuk menjadi orang-orang yang dapat dipercaya dan menepati setiap janji yang kita ucapkan.
Janji yang terucap tidak akan membuat orang lain mempercayai dan menghargai Anda kecuali Anda menepatinya.
Robertson McQuilkin mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai rektor diUniversitas Internasional Columbia dengan alasan merawat istrinya Muriel yang sakit alzheimer yaitu gangguan fungsi otak.Muriel sudah seperti bayi,tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk makan,mandi dan buang airpun ia harus dibantu. Robertson memutuskan untuk merawat istrinya dgn tangannya sendiri,karena Muriel adalah wanita yg sangat istimewa baginya.
Pernah suatu kali ketika Robertson membersihkan lantai bekas ompol Muriel dan di luar kesadaran, Muriel malah menyerakkan air seninya sendiri, sehingga Robertson kehilangan kendali emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya, guna menghentikannya. Setelah itu Robertson menyesal dan berkata dalam hatinya, "Apa gunanya saya memukulnya,walaupun tidak keras, tetapi itu cukup mengejutkannya. Selama 44 tahun kami menikah,saya belum pernah menyentuhnya karena marah, namun kini di saat ia sangat membutuhkan saya,saya memperlakukannya demikian. Ampuni saya, ya Tuhan." Tanpa peduli apakah Muriel mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah dilakukannya.
Pada tanggal 14 Februari 1995, hari itu adalah hari istimewa untuk Robertson dan Muriel, karena pada tanggal itu di tahun 1948, Robertson melamar Muriel. Pada hari istimewa itu Robertson memandikan Muriel, lalu menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Muriel.Menjelang tidur ia mencium dan menggenggam tangan Muriel lalu berdoa, "Tuhan yang baik, Engkau mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya, karena itu jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam dan biarlah
ia mendengar nyanyian malaikatMu. Amin."
Pagi harinya, ketika Robertson berolahraga dengan menggunakan sepeda statisnya,Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Muriel tidak pernah berbicara, memanggil Robertson dengan suara yang lembut dan bening, "Sayangku ... sayangku ..."
Robertson melompat dari sepedanya dan segera memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu. "Sayangku, kau benar2 mencintaiku bukan ?" tanya Muriel. Setelah melihat anggukan dan senyum diwajah Robertson, Muriel berbisik, "Aku bahagia !" Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Muriel kepada Robertson.
READ MORE >>
Menepati janji adalah sifat yang mulia. Orang yang setia dengan janjinya biasanya memiliki karakter yang baik dan dapat dipercaya. Robertson McQuilken adalah orang yang setia dengan janjinya. Pada waktu kecil ia memiliki cita-cita untuk menjadi presiden dari Columbia Bible College di Columbia, South Carolina. Ia sangat mengagumi ayahnya yang menduduki posisi tersebut pada waktu itu.
Cita-cita McQuilken akhirnya tercapai. Ia menjadi presiden dari Columbia Bible College yang sangat sukses. Pada suatu hari, isterinya menderita Alzheimer (penyakit pikun). Penyakit ini membuat isterinya kehilangan ingatan sehingga ia tidak mengenali suaminya lagi. McQuilken akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisi impiannya untuk merawat isterinya. Ada yang mengkritik dan berpendapat bahwa sebenarnya banyak orang yang dapat merawat isterinya, tetapi tidak banyak yang dapat menjabat presiden sesukses dia. Apalagi isterinya juga sudah tidak dapat mengenali McQuilken lagi. Ada juga yang mengkritik bahwa McQuilken telah meninggalkan panggilan Tuhan.
Jawaban McQuilken amat mengagumkan. Terhadap kritik yang pertama ia berkata bahwa yang penting ia masih mengenali isterinya dan walaupun isterinya lupa, ia tetap wanita yang menarik seperti pada waktu mereka menikah. Terhadap kritik yang kedua ia berkata, "Ada satu hal yang lebih penting dari sekedar panggilan, dan itu adalah sebuah janji. Saya sudah berjanji kepada kepada isteri saya tercinta untuk terus setia mendampinginya sampai maut memisahkan kami."
Bagaimana dengan janji-janji yang pernah terucap dari bibir Anda? Sudahkan itu ditepati atau hanya sekedar hiasan bibir belaka? Kiranya teladan McQuilken mampu membangkitkan setiap kita untuk menjadi orang-orang yang dapat dipercaya dan menepati setiap janji yang kita ucapkan.
Janji yang terucap tidak akan membuat orang lain mempercayai dan menghargai Anda kecuali Anda menepatinya.
Robertson McQuilkin mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai rektor diUniversitas Internasional Columbia dengan alasan merawat istrinya Muriel yang sakit alzheimer yaitu gangguan fungsi otak.Muriel sudah seperti bayi,tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk makan,mandi dan buang airpun ia harus dibantu. Robertson memutuskan untuk merawat istrinya dgn tangannya sendiri,karena Muriel adalah wanita yg sangat istimewa baginya.
Pernah suatu kali ketika Robertson membersihkan lantai bekas ompol Muriel dan di luar kesadaran, Muriel malah menyerakkan air seninya sendiri, sehingga Robertson kehilangan kendali emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya, guna menghentikannya. Setelah itu Robertson menyesal dan berkata dalam hatinya, "Apa gunanya saya memukulnya,walaupun tidak keras, tetapi itu cukup mengejutkannya. Selama 44 tahun kami menikah,saya belum pernah menyentuhnya karena marah, namun kini di saat ia sangat membutuhkan saya,saya memperlakukannya demikian. Ampuni saya, ya Tuhan." Tanpa peduli apakah Muriel mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah dilakukannya.
Pada tanggal 14 Februari 1995, hari itu adalah hari istimewa untuk Robertson dan Muriel, karena pada tanggal itu di tahun 1948, Robertson melamar Muriel. Pada hari istimewa itu Robertson memandikan Muriel, lalu menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Muriel.Menjelang tidur ia mencium dan menggenggam tangan Muriel lalu berdoa, "Tuhan yang baik, Engkau mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya, karena itu jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam dan biarlah
ia mendengar nyanyian malaikatMu. Amin."
Pagi harinya, ketika Robertson berolahraga dengan menggunakan sepeda statisnya,Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Muriel tidak pernah berbicara, memanggil Robertson dengan suara yang lembut dan bening, "Sayangku ... sayangku ..."
Robertson melompat dari sepedanya dan segera memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu. "Sayangku, kau benar2 mencintaiku bukan ?" tanya Muriel. Setelah melihat anggukan dan senyum diwajah Robertson, Muriel berbisik, "Aku bahagia !" Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Muriel kepada Robertson.






























































